SAN FRANCISCO — No one may be able to agree on what Web 2.0 means, but the idea of a new, more collaborative internet is creating buzz reminiscent of the go-go days of the late 1990s.
Excitment over emerging new publishing theories — and the whiff of a resurgence of startup financings — this week drew throngs of geeks paying $2,800 a head to the sold-out Web 2.0 Conference in San Francisco. Eight hundred people jostled in the doorways of early workshops devoted to tagging, innovations in search and raising venture capital.
Web 2.0, according to conference sponsor Tim O’Reilly, is an “architecture of participation” — a constellation made up of links between web applications that rival desktop applications, the blog publishing revolution and self-service advertising. This architecture is based on social software where users generate content, rather than simply consume it, and on open programming interfaces that let developers add to a web service or get at data. It is an arena where the web rather than the desktop is the dominant platform, and organization appears spontaneously through the actions of the group, for example, in the creation of folksonomies created through tagging.
The theory has been percolating for some time. But it intensified last week when O’Reilly published an essay on the topic, as well as a graphic outlining the key categories of this new medium.
Ross Mayfield, the CEO of SocialText, a company that sells collaborative wiki software to enterprises and that is hosting the Web 2.0 wiki, had a simpler definition for conference goers.
“Web 1.0 was commerce. Web 2.0 is people,” Mayfield said.
The day was not without skeptics.
In a freewheeling conversation with Web 2.0 conference organizer John Battelle, InterActiveCorp CEO Barry Diller, who recently purchased Ask.com, dismissed the idea that citizens with blogs and video editing software were major threats to the entertainment industry.
“There is not that much talent in the world,” Diller said. “There are very few people in very few closets in very few rooms that are really talented and can’t get out.”
“People with talent and expertise at making entertainment products are not going to be displaced by 1,800 people coming up with their videos that they think are going to have an appeal.”
That clear-headed observation didn’t set well with some, including media critic Jeff Jarvis, who promptly blogged the talk and labeled Diller with the deadly moniker, “Web 1.0.”
By whatever the theory, Web 2.0 is shaking up the status quo in web publishing, and feeding a surge of dealmaking.
Small Web 2.0 companies are already being snapped up by internet giants.
Google acquired Dodgeball, a mobile phone social networking application, and recruited one of the princes of mash-ups, Paul Rademacher of Housingmaps.com, from his job at DreamWorks Animation SKG.
Yahoo snapped up Flickr, a community photo sharing application that relies heavily on tagging, and on Tuesday, bought Upcoming.org, an user-driven events tracking service.
Wednesday afternoon’s LaunchPad presentation, featuring 13 companies giving six minute pitches, drew throngs, including venture capitalists smelling money to be made from the cleverness of young programmers, and representatives from internet giants trying to determine whether their business models were as doomed as bloggers have prophesied.
The crowd was so large that hotel staff had to break down the partitions separating three conference rooms to accommodate everyone.
The presentations included a demo of the well publicized, but as yet unreleased, Flock browser, that aims to make Firefox into a two-way communication tool.
Ian McCarthy of Orb showed the crowd how his software would let them stream media from their desktop using any web-enabled device, without having to worry about the format or bit rate of their movies or music.
Zvents.com unveiled its event finder (which currently covers only the San Francisco Bay Area) and claimed it was far better than the service Yahoo had purchased the day before.
Rollyo, short for roll your own search engine, officially launched at the demo, unveiling a service that lets users build their own specific search engines for travel or politics using Yahoo’s search API.
Longtime RSS player Pub Sub unveiled its initiative, Structured Blogging, to help bring the fabled Semantic Web into being.
Structured Blogging allows bloggers to easily add structured meta-data to blog posts, such as movie reviews or event listings, so they can be easily found, read and syndicated by other sites.
The ad-hoc XML (no standards body has yet decided on what elements should be in such data) would make possible a search for book or product reviews that only returned real reviews, instead of the current jumbled listing of commerce sites and spammers that search engines currently provide.
But the crowd reserved its largest applause and its gasps of envy for Zimbra, a company which debuted its open-source enterprise software in early September.
The software, called a collaboration suite, performs the same server based calendaring and e-mail of Microsoft’s Exchange Server.
Zimbra CEO Satish Dharmaraj wowed the crowd with his demo of his Ajax-powered web client, which would display the calendar when mousing over a date mentioned in an e-mail and call a number through Skype when clicking on a phone number in a message.
Zimbra already has devotees working on the code and translating the interface into Spanish, Portuguese and Dutch.
Dharmaraj knows he’s facing a tough battle taking on a flagship Microsoft product, but thinks that Web 2.0-style collaboration and the efforts of the open source community might be his savior.
“I would not like to take on the big boy by myself,” Dharmaraj told Wired News. “I would love to take Microsoft on with IBM and Google and Apple on my side.”
http://www.wired.com/news/technology/0,69114-0.html
February 16th, 2007
Mempertahankan Tradisi, Mengharap Keberuntungan
SURABAYA - Warna merah-kuning, hiasan lampion dan gantungan pernik-pernik Imlek telah mewarnai banyak tempat di kota ini. Memang, perayaan Tahun Baru Imlek kian dekat. Pekan depan, tahun baru Imlek 2558 datang.
Pada momen-momen seperti ini, warga Tionghoa selalu kembali melaksanakan tradisi-tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang mereka. Misalnya, berburu pernik-pernik, mengunjungi saudara, hingga membagi angpau.
Memang, Imlek tak perhubungan langsung dengan perayaan suatu agama. Maka sah saja apabila warga Tionghoa dari berbagai agama mencoba nguri-uri kebudayaannya tersebut.
Meski demikian, sebagian kalangan menyarankan, Imlek adalah momen yang tepat untuk berdoa. Itu dikatakan Iskandar Hamzah, Kepala Bagian Pendidikan, Kebudayaan, dan Penerbitan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Timur.
Doa di tahun baru Imlek, selalu berisi pengharapan tentang kemakmuran di tahun selanjutnya. Untuk umat Tri Dharma (Buddha, Tao, dan Konghucu), doa tersebut biasa dipanjatkan pada malam tahun baru di wihara atau kelenteng masing-masing.
Pada saat itu, mereka berdoa di hadapan beberapa patung dewa. Di antaranya, Dewa Kuan Kong, Dewi Kwan Im, Dewi Neraka, Dewa Langit (Raja Dewa), atau Buddha 4 Wajah. Aktivitas mendaraskan doa itu kerap dilengkapi membakar hio atau dupa. Selain memberikan persembahan, umat juga mendoakan arwah para leluhur.
Nah, salah satu makna penting perayaan tersebut terkandung dalam ucapan Gong Xi Fa Chai, ungkapan “wajib” ketika Imlek. Gong Xi berarti selamat atau bisa juga dimaknai sebagai persembahan dari hati yang bersih secara spiritual. Sementara Fa berarti berkembang dan Chai berarti kemakmuran.
Maka, arti ucapan itu pun gamblang. Itu adalah doa yang mengandung harapan agar kemakmuran setiap orang selalu berkembang. “Sejak dulu, kami selalu menyadari dan mengharapkan kemakmuran. Karena itu, setiap tahun kami mengucapkan harapan itu dalam doa kami,” ujar Sidharta Adhimulya, koordinator Jaringan Intelektual Tao Liberal Indonesia (JITLI).
Meskipun tidak merayakan secara khusus, pria bernama asli Poo Tjien Sie itu tetap mempertahankan tradisi. Yaitu dengan saling mengunjungi ke rumah kerabat yang dianggap sesepuh dalam keluarga besar. Bahkan, pria berusia 45 tahun itu mengaku sangat menantikan kesempatan untuk saling bersilaturahmi itu. Di rumah sesepuh keluarga besar tersebut, biasanya mereka saling memberikan ucapan selamat, dilanjutkan makan bersama serta membagikan angpau.
Menurut Sidharta, kesempatan untuk saling memberikan ucapan selamat tahun baru adalah selama 15 hari. Maka, pada hari ke-15 perayaan Imlek di Tiongkok, masyarakat dengan suka cita merayakan acara puncak itu. “Penerangan pada zaman dulu kan tidak ada. Hanya mengandalkan sinar bulan yang pada tanggal 15 itu mempunyai bentuk yang sempurna,” tambah putra ketiga dari lima bersaudara yang juga alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Narotama Surabaya itu.
Pada masa itu, puncak perayaan tahun baru, selain untuk saling bersilaturahmi, juga bisa pula menjadi ajang mencari jodoh. Sebab, selama musim dingin, mereka jarang dan hampir tidak pernah bertemu satu sama lain.
Namun, saat ini, makna perayaan tersebut sudah sangat berbeda. Hendra Tjahyono, misalnya. Lajang berusia 30 tahun itu mulai membeli pakaian baru yang akan dikenakannya pada tahun baru nanti.
Persiapan lain yang dilakukan account executive sebuah situs perkawinan itu adalah membersihkan rumah. Baginya, bersih-bersih menjadi semacam “syarat” menjelang tahun baru. Lalu, bersama saudara dan orang tuanya, dia pun membeli dan memasang pernik-pernik Imlek, seperti lampion dan gantungan di pintu masuk rumah. Hal senada juga diungkapkan oleh Dharta dan Iskandar.
Hendra termasuk yang merayakan Imlek di rumah, bersama kedua orang tua dan saudara. Sebab, keluarga besarnya yang lain banyak yang berada di luar pulau. “Untuk itu, kami biasa saling mengucapkan selamat lewat telepon,” ujarnya.
Setiap tahun baru, biasanya ibunda Hendra kerap memasak sendiri sebagai hidangan untuk malam berbahagia mereka. Tidak kurang dari delapan macam masakan diracik sang bunda untuk keluarga besarnya. Mulai cap cay, sup merah, ayam goreng, nasi goreng, nasi putih, koloke, hingga fuyunghai.
“Yang harus ada dalam perayaan tahun baru kami adalah mi. Sebab, seperti bentuknya yang panjang, terkandung harapan agar kami semua panjang umur,” tutur Hendra.
Bisa dikatakan, perayaan tahun baru yang dilakukan kali ini terbilang sederhana. Seperti yang dikatakan Iskandar, itu sebabkan banyaknya bencana yang sedang terjadi di Indonesia. “Merayakan Tahun Baru Imlek memang merupakan salah satu tradisi kami. Tapi, negara tempat kami berada sedang kesusahan. Untuk itu, kami mempunyai kesadaran untuk tidak merayakannya dengan berlebihan. Cukup yang sederhana saja dan yang penting tidak mengurangi makna,” kata bapak dua putri itu.
Bagaimana dengan masyarakat Tionghoa yang memeluk Islam? Menurut Tony Hartono Bagio, ketua umum DPD PITI (Pembina Iman Tauhid Islam) Surabaya, Imlek tak ubahnya seperti merayakan Idul Fitri. Tradisi yang paling kental dilakukan adalah mudik dan memberi angpau.
“Kalau masa-masa Imlek seperti sekarang, orang-orang sudah pasti pulang kampung. Atau bisa juga mengunjungi saudara. Tradisi membagikan angpau pun juga dilakukan, sama seperti Idul Fitri kan?” papar Tony.
Meski demikian, bukan berarti umat muslim Tionghoa melakukan semua tradisi Imlek pada umumnya. Untuk ritual bakar hio swa (dupa), pernik-pernik, menyediakan buah-buah khusus, tidak dilakukan. Itu menurut Tony merupakan ritual keagamaan yang tentunya hanya dilakukan umat agama lain.
“Pada dasarnya, umat muslim Tionghoa tidak banyak melakukan persiapan menjelang Imlek. Lagipula, bagi kami, tidak ada banyak acara yang dipersiapkan untuk menyambut Imlek,” ungkapnya.
Tony pun menjelaskan, bahwa perayaan Imlek untuk muslim Tionghoa dilakukan karena mereka tetap menghargai tradisi dan darah mereka sebagai keturunan Tiongkok. “Dalam organisasi (PITI, Red), kami dipersilakan mengambil sikap sendiri-sendiri,” ujarnya. (dina annisa/ donny apriliananda)
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=270842
February 11th, 2007